Bukit Sama Didaki Lurah Sama Dituruni: Membangun Paradigma Sistem Ekonomi Pancasila “Andum Berkah, Andum Tuno”
Keywords:
Paradigma, Sistem Ekonomi, Ekonomi, Ekonomi PancasilaSynopsis
Pepatah "Bukit Sama Didaki, Lurah Sama Dituruni" memiliki
kesamaan makna dengan konsep gotong royong dan prinsip "berat
sama dipikul, ringan sama dijinjing". Nilai kearifan lokal Nusantara
ini menjadi landasan filosofis penulis untuk merekonstruksi dan
merumuskan paradigma baru dalam Sistem Ekonomi Pancasila.
Tujuannya adalah demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia sebagaimana yang telah diamanatkan oleh sila
kelima Pancasila.
Pembangunan nasional pada dasarnya bertujuan mulia untuk
menciptakan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi yang
proporsional di seluruh tanah air. Sasaran ini hanya dapat tercapai
jika masyarakat dilibatkan secara intensif dalam proses
pembangunan sehingga muncul rasa memiliki (sense of belonging).
Dalam perspektif ekonomi Pancasila, menempatkan Sumber Daya
Manusia (SDM) warga negara Indonesia sebagai pelaku utama,
bukan sekadar penonton, adalah sebuah keharusan.
Jika logika pembangunan ekonomi saat ini tidak segera diubah
secara cepat dan progresif, Indonesia berisiko menghadapi situasi
"kriwikan dadi grojogan", di mana masalah kecil yang disepelekan
akan memicu krisis ekonomi nasional yang masif. Krisis tersebut
pada akhirnya akan memarginalkan masyarakat bawah dan
menciptakan kemiskinan struktural. Oleh karena itu, pengamalan
nilai-nilai keadilan sosial wajib segera diwujudkan untuk
menjembatani jurang pemisah yang curam antara kelompok kaya
dan miskin.

